Review Film I Saw the TV Glow: TV yang Hidup
Review Film I Saw the TV Glow: TV yang Hidup. I Saw the TV Glow (2024), karya sutradara Jane Schoenbrun, tetap menjadi salah satu film paling mengganggu dan banyak dianalisis dalam perfilman independen hingga awal 2026. Film berdurasi 100 menit ini tayang perdana di Sundance Januari 2024, rilis terbatas di bioskop Mei 2024, dan kemudian tersedia di platform streaming. Dengan pendekatan slow-burn horror psikologis yang sangat personal, film ini mengisahkan dua remaja—Owen (Justice Smith) dan Maddy (Brigette Lundy-Paine)—yang terobsesi dengan acara TV fiksi berjudul “The Pink Opaque”. Hingga kini, film ini sering disebut sebagai salah satu karya paling penting tentang identitas transgender, disforia gender, dan krisis eksistensial di era media modern, dengan pujian luas dari kritikus karena keberaniannya menyampaikan tema berat melalui alegori yang halus dan atmosfer yang menyesakkan. MAKNA LAGU
Sinopsis dan Atmosfer yang Menyesakkan: Review Film I Saw the TV Glow: TV yang Hidup
Cerita dimulai pada 1996, ketika Owen—seorang remaja introvert berusia 14 tahun—bertemu Maddy, siswi baru yang lebih tua dan terobsesi dengan serial TV misterius “The Pink Opaque” yang tayang di saluran lokal malam hari. Serial fiksi itu mengisahkan dua gadis yang terhubung secara telepati dan melawan monster bernama Mr. Melancholy. Owen dan Maddy menonton bersama setiap minggu, tapi hubungan mereka terputus ketika Maddy menghilang secara misterius. Bertahun-tahun kemudian, Owen bertemu kembali dengan Maddy yang kembali dengan cerita aneh: ia yakin bahwa serial itu bukan fiksi, melainkan realitas yang mereka alami, dan dunia mereka adalah “show” yang salah.
Jane Schoenbrun sengaja membangun atmosfer yang lambat dan menyesakkan: warna-warna pastel yang pudar, suara TV statis yang terus-menerus, dan pencahayaan neon biru-merah muda yang terasa seperti mimpi buruk. Tidak ada jump scare konvensional; rasa takut datang dari ketidakpastian identitas—apakah Owen benar-benar hidup di dunia nyata, atau ia adalah karakter dalam “The Pink Opaque” yang lupa siapa dirinya sebenarnya?
Penampilan dan Penggambaran Karakter: Review Film I Saw the TV Glow: TV yang Hidup
Justice Smith sebagai Owen memberikan penampilan yang sangat rapuh dan penuh lapisan—ia berhasil menyampaikan ketakutan, kebingungan, dan disforia yang semakin dalam tanpa dialog berlebihan. Brigette Lundy-Paine sebagai Maddy tampil intens dan magnetis, menjadi katalisator yang membuat Owen mempertanyakan realitasnya. Pemeran pendukung seperti Helena Howard (sebagai Isabel) dan Lindsey Jordan (sebagai Riley) menambahkan nuansa surreal yang memperkuat alegori transgender dalam film.
Schoenbrun tidak pernah secara eksplisit menyatakan bahwa Owen adalah trans; ia membiarkan penonton merasakan disforia melalui gestur kecil—cara Owen memandang tubuhnya sendiri, ketidaknyamanan dengan nama dan pronoun, serta obsesi dengan “The Pink Opaque” sebagai pelarian dari tubuh dan identitas yang salah. Pendekatan ini membuat film terasa sangat autentik dan personal bagi banyak penonton trans yang melihat diri mereka dalam perjuangan Owen.
Tema Utama dan Alegori yang Kuat
I Saw the TV Glow adalah alegori yang sangat kuat tentang disforia gender dan transisi. “The Pink Opaque” melambangkan dunia ideal di mana seseorang bisa menjadi diri sejati mereka, sementara “dunia nyata” adalah tempat yang membatasi dan menyiksa. Pemadaman listrik massal dan “show yang berakhir” di akhir film menjadi metafora untuk transisi—melepaskan realitas lama yang salah dan memasuki dunia baru yang menakutkan tapi autentik. Film ini juga menyentil tema bahwa media (terutama TV dan internet) sering menjadi tempat pelarian bagi mereka yang merasa tidak cocok dengan tubuh atau lingkungan mereka.
Pendekatan visualnya dingin dan claustrophobic: warna-warna neon yang pudar, ruang sempit, dan suara TV statis yang terus-menerus menciptakan rasa terperangkap. Tidak ada monster fisik; “horror” ada di dalam diri karakter—ketakutan akan identitas yang salah dan kehilangan diri sendiri.
Kesimpulan
I Saw the TV Glow adalah film yang mengganggu, indah, dan sangat penting—menyajikan alegori transgender dengan cara yang halus, emosional, dan tidak pernah eksploitatif. Penampilan Justice Smith dan Brigette Lundy-Paine luar biasa, sementara arahan Jane Schoenbrun berhasil menciptakan karya yang terasa sangat personal meski menggunakan elemen horor dan sci-fi. Film ini bukan sekadar thriller psikologis; ia adalah potret tentang disforia, transisi, dan perjuangan menemukan diri sejati di dunia yang sering kali tidak mengerti. Hingga 2026, film ini tetap relevan karena terus mengajak penonton bertanya: apa yang terjadi ketika kita menyadari bahwa “realitas” yang kita jalani sebenarnya adalah show yang salah? I Saw the TV Glow bukan film yang mudah ditonton—tapi itulah kekuatannya. Ia membuat penonton merasa terjebak, ketakutan, dan akhirnya sedikit lebih memahami pengalaman hidup yang sering kali disembunyikan. Sebuah karya yang menggetarkan, provokatif, dan sangat layak untuk dibahas serta diingat.
