Review Film Percy Jackson: Petualangan Anak Setengah Dewa
Review Film Percy Jackson: Petualangan Anak Setengah Dewa. Percy Jackson and the Olympians Season 2 tayang lengkap di Disney+ mulai Desember 2025, melanjutkan adaptasi novel Rick Riordan dengan 8 episode yang lebih ambisius dari season pertama. Musim ini mengadaptasi buku kedua The Sea of Monsters, di mana Percy (Walker Scobell), Annabeth (Leah Sava Jeffries), dan Grover (Aryan Simhadri) berpetualang mencari Golden Fleece untuk menyelamatkan pohon Thalia dan Camp Half-Blood. Dengan durasi tiap episode sekitar 45–55 menit, season ini mendapat sambutan sangat positif—skor Rotten Tomatoes Certified Fresh 92% dari kritikus dan audience score 89%—karena eksekusi yang lebih matang, visual efek lebih baik, dan chemistry antar cast yang semakin kuat. Ini adalah petualangan anak setengah dewa yang penuh aksi, humor, dan hati, cocok untuk penggemar mitologi Yunani maupun penonton muda yang mencari cerita heroik dengan pesan persahabatan dan identitas diri. REVIEW KOMIK
Alur Cerita dan Plot: Review Film Percy Jackson: Petualangan Anak Setengah Dewa
Musim ini dimulai dengan Camp Half-Blood yang terancam karena pohon Thalia mulai layu, membuat perbatasan kamp melemah dan monster bisa masuk lebih mudah. Percy mendapat mimpi dari Grover yang terperangkap di Sea of Monsters (Laut Bermuda), sehingga ia, Annabeth, dan Tyson (adik setengah dewa Cyclops yang baru ditemukan) berlayar dengan kapal Queen Anne’s Revenge milik Luke. Perjalanan penuh rintangan: serangan Scylla dan Charybdis, pertemuan dengan Circe yang berubah jadi penyihir modern, hingga konfrontasi dengan Polyphemus si Cyclops raksasa. Plot mengikuti buku dengan cukup setia tapi menambahkan kedalaman emosional—terutama hubungan Percy dengan Tyson yang awalnya ditolak karena trauma masa kecil, serta konflik internal Annabeth tentang identitasnya sebagai anak Athena. Ada twist besar soal Luke dan Kronos yang semakin terasa mengancam, serta momen heroik ketika Percy menggunakan kekuatan Poseidon untuk pertama kalinya secara penuh. Meski beberapa bagian terasa agak lambat di tengah (terutama episode di Circe’s Island), pacing keseluruhan lebih baik dari season 1, dengan klimaks di pulau terakhir yang intens dan emosional. Ending membuka jalan lebar untuk season 3 sambil memberikan resolusi yang memuaskan untuk arc Golden Fleece.
Pemeran dan Penampilan: Review Film Percy Jackson: Petualangan Anak Setengah Dewa
Walker Scobell sebagai Percy Jackson semakin matang—ia berhasil menyampaikan campuran humor sarkastik, kerentanan remaja, dan keberanian pahlawan dengan natural. Chemistry-nya dengan Leah Sava Jeffries (Annabeth) dan Aryan Simhadri (Grover) terasa seperti sahabat sejati, penuh canda tapi juga dukungan emosional saat dibutuhkan. Jeffries sebagai Annabeth menonjol dengan penampilan yang lebih tegas dan cerdas, sementara Simhadri membawa kehangatan dan humor khas satyr yang membuat Grover tetap jadi favorit. Tambahan cast seperti Daniel Diemer sebagai Tyson memberikan nuansa polos dan menyentuh, Daniel Sharman sebagai Luke semakin karismatik sebagai antagonis kompleks, dan Jessica Parker Kennedy sebagai Circe menambah warna dengan pesona jahat yang menyenangkan. Visual efek dari Weta Digital dan tim Disney sangat memuaskan—monster seperti Scylla, Polyphemus, dan Laestrygonians terasa hidup dan menakutkan tanpa terlalu kartunish. Sinematografi di lokasi laut dan pulau tropis juga indah, membuat petualangan terasa epik.
Elemen Petualangan dan Mitologi
Musim ini unggul dalam menghidupkan mitologi Yunani modern dengan cara yang segar: anak setengah dewa menghadapi monster klasik tapi dalam konteks kontemporer—misalnya kapal layar jadi yacht mewah, atau penyihir Circe beroperasi sebagai spa kecantikan. Aksi tetap jadi highlight: pertarungan laut melawan Scylla-Charybdis, duel dengan Polyphemus, dan penggunaan kekuatan dewa yang terasa powerful tapi tidak berlebihan. Ada humor khas Riordan—dialog cerdas, referensi pop culture, dan momen lucu seperti Percy yang kesulitan mengendalikan kekuatan air—tapi musim ini lebih dalam dalam tema persahabatan, keluarga yang dipilih, dan penerimaan diri (terutama arc Tyson dan Annabeth). Beberapa kritik menyebut beberapa monster terasa kurang menakutkan atau subplot Luke agak terburu-buru, tapi secara keseluruhan season ini terasa lebih percaya diri dan setia pada semangat buku. Cocok untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang ingin nostalgia mitologi dengan sentuhan modern.
Kesimpulan
Percy Jackson and the Olympians Season 2 adalah adaptasi yang semakin matang dan menghibur, berhasil membawa petualangan anak setengah dewa dengan aksi seru, humor cerdas, dan emosi yang tulus. Walker Scobell cs semakin nyaman di peran mereka, visual efek memukau, dan cerita yang setia tapi punya tambahan kedalaman membuat season ini lebih baik dari yang pertama. Meski ada sedikit kekurangan pacing di tengah, ini tetap jadi tontonan wajib bagi penggemar buku maupun penonton baru yang suka cerita heroik penuh mitologi. Skor keseluruhan: 8.5/10—petualangan di Sea of Monsters yang bikin ketagihan, penuh keajaiban, persahabatan, dan harapan.
